BatamBeritaKepriKepulauan RiauKriminalitas

Kasus Pelecehan Anak di Batam Meningkat, DPRD Minta Orang Tua dan Sekolah Perkuat Pengawasan

156
×

Kasus Pelecehan Anak di Batam Meningkat, DPRD Minta Orang Tua dan Sekolah Perkuat Pengawasan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Batamdaily.id
Ilustrasi Batamdaily.id

Kasus Pelecehan Anak di Batam Meningkat, DPRD Minta Pengawasan Diperketat

Batam – Rentetan kasus dugaan pelecehan terhadap anak di bawah umur yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius berbagai pihak di Kota Batam. Peristiwa yang melibatkan korban usia sekolah tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Hendrik, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah.

“Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Perlindungan terhadap anak harus diperkuat dari semua lini,” ujarnya usai menghadiri agenda di Mapolresta Barelang, Rabu (11/2/2026).

Peran Orang Tua Dinilai Sangat Krusial

Menurut Hendrik, keluarga merupakan benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai ancaman sosial. Orang tua diharapkan lebih aktif memberikan pemahaman tentang batasan diri, edukasi seksual yang sesuai usia, serta cara mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, khususnya bagi remaja yang mulai memasuki masa pubertas.

“Pengawasan tidak cukup hanya secara fisik. Orang tua juga harus memahami kondisi emosional dan psikologis anak-anaknya,” tegasnya.

Sekolah Diminta Tingkatkan Sistem Pengawasan Internal

Tak hanya keluarga, institusi pendidikan juga diminta melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan di lingkungan sekolah. Dinas Pendidikan Kota Batam didorong untuk meningkatkan pembinaan rutin bagi tenaga pendidik dan siswa.

Program edukasi karakter, penyuluhan tentang perlindungan diri, serta penanaman nilai moral dinilai penting untuk mencegah tindakan asusila di lingkungan pendidikan.

Hendrik menilai, sebagai kota yang menyandang predikat Kota Layak Anak, Batam seharusnya mampu menghadirkan ruang aman bagi tumbuh kembang generasi muda.

“Jika kasus seperti ini terus terjadi, tentu sangat disayangkan. Predikat tersebut harus dibarengi dengan komitmen nyata dalam perlindungan anak,” katanya.

Sinergi Jadi Kunci Pencegahan

Ia menambahkan, regulasi dan program perlindungan anak yang telah ada harus dijalankan secara konsisten dan tidak sekadar formalitas. Koordinasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, sekolah, dan orang tua menjadi faktor penting dalam menekan angka kekerasan terhadap anak.

Pengawasan terhadap pergaulan remaja, baik di dunia nyata maupun digital, juga perlu diperketat mengingat perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Semua pihak harus berperan aktif agar anak-anak kita tidak menjadi korban kekerasan maupun pelecehan,” pungkasnya.