BatamBisnis

Sejumlah Kopdes Merah Putih di Batam Tutup, DPRD Kepri Soroti Minimnya Pembinaan

8
Sejumlah Kopdes Merah Putih di Batam Tutup, DPRD Kepri Soroti Minimnya Pembinaan

Sumber: Wikimedia Commons

Batam — Sejumlah Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kepulauan Riau berhenti beroperasi hanya beberapa bulan setelah diresmikan, memicu sorotan soal minimnya pembinaan dan modal operasional dari pemerintah.

Kopdes di Pulau Buluh Tutup Lebih Cepat

BATAM, Batamdaily — Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Kota Batam, menjadi sorotan setelah berhenti beroperasi. Koperasi yang diresmikan pada September 2025 itu hanya bertahan sekitar lima bulan dan menghentikan aktivitasnya pada Desember 2025. Bangunan yang sempat digunakan sebagai tempat usaha tampak kosong sejak sekitar Juni 2026.

Penyebab dari Sisi Pengelola

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Batam, Salim, menjelaskan bahwa koperasi tersebut memiliki 49 anggota dengan tiga unit usaha: gerai sembako, pangkalan LPG 3 kilogram, dan agen BRILink. Namun operasional tak dapat dipertahankan karena pengelola kewalahan menjalankan seluruh aktivitas seorang diri tanpa didampingi pengurus lain yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Sorotan DPRD Kepri

Sekretaris Komisi II DPRD Kepri yang membidangi Koperasi dan UMKM, Wahyu Wahyudin, menilai pemerintah belum memberikan pembinaan memadai. Ia mencontohkan Kopdes di Pulau Buluh yang berjalan dengan dana pribadi pengurus tanpa dukungan anggaran operasional. Kasus serupa juga terjadi di Tiban Patam Lestari, Batam.

Wahyu menekankan bahwa dukungan tak harus berupa uang. Pendampingan manajemen, penyusunan laporan keuangan, hingga bantuan mendapatkan pemasok dengan harga kompetitif dinilai lebih krusial agar koperasi bisa bersaing dengan toko luar.

Bandingan dengan Bintan

Sebaliknya, Kopdes Merah Putih di Kabupaten Bintan masih bertahan karena memiliki model bisnis jelas. Koperasi tersebut menjadi pemasok kebutuhan perusahaan di kawasan Lagoi sehingga memiliki pasar stabil. Wahyu menyarankan Kopdes di Pulau Buluh diarahkan menjadi supplier perusahaan di Pulau Bulan atau galangan kapal di sekitarnya.

Agenda Evaluasi

Di Kepri tercatat sekitar 460 Kopdes Merah Putih terbentuk, dengan sekitar 80 persen bangunan di Batam disebut sudah selesai dibangun namun banyak yang belum beroperasi optimal. Pemerintah Kota Batam menyatakan akan mengevaluasi pengelolaan koperasi agar kejadian serupa tidak terulang. Wahyu menambahkan, yang dibutuhkan bukan sekadar gedung, melainkan anggota kuat, modal cukup, jaringan usaha, dan pembinaan berkelanjutan.

Langkah Antisipasi

Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan skenario antisipasi sejak dini agar dampak serupa tidak meluas. Koordinasi antarinstansi menjadi kunci agar informasi tersampaikan cepat kepada masyarakat.

Peran Masyarakat

Masyarakat diimbau proaktif mencari informasi resmi dan menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi. Literasi informasi yang baik membantu menekan kepanikan di tengah peristiwa.

Catatan Redaksi

Berita ini dirangkum dari laporan resmi dan disajikan untuk memberi gambaran utuh kepada pembaca. {site} akan memperbarui laporan apabila ada perkembangan baru yang dikonfirmasi.

Penutup

Perkembangan ini akan terus dipantau. Batamdaily berkomitmen menyajikan berita terkini yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi pembaca.

Dukungan dan Pemulihan

Pasca peristiwa, dukungan bagi pihak terdampak perlu dipastikan tersalurkan dengan tepat sasaran. Baik bantuan logistik maupun pendampingan psikososial berperan mempercepat pemulihan kondisi sosial di tengah masyarakat. Lembaga terkait dapat mengoptimalkan jaring pengaman yang tersedia.

Penutup

Perkembangan ini akan terus dipantau secara berkala. Batamdaily berkomitmen menyajikan berita terkini yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi pembaca serta mendukung terciptanya informasi yang sehat di ruang publik.

Kondisi Wilayah dan Cuaca

Sebagai kota kepulauan dengan topografi bergelombang, Batam memiliki sejumlah kawasan permukiman yang berbatasan langsung dengan lereng dan tebing. Curah hujan tinggi dalam intensitas lama menjadi pemicu utama pergerakan tanah, terutama di lokasi yang belum dilengkapi sistem drainase memadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara berkala merilis peringatan dini bagi wilayah rawan, yang seyogyanya dijadikan acuan warga dan pengelola kawasan.

Peran BPBD dan Relawan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan relawan dalam operasi pencarian dan pertolongan. Kehadiran alat berat sangat menentukan kecepatan pembersihan material longsor, namun akses jalan yang sempit kerap menjadi kendala di pemukiman padat. Keterpaduan antarpihak inilah yang menentukan seberapa cepat situasi dapat dikendalikan dan warga terdampak mendapat penanganan.

Mitigasi bagi Warga

Warga diimbau mengenali tanda-tanda awal bahaya, seperti retakan baru pada dinding atau tanah, munculnya mata air tiba-tiba, serta suara gemuruh dari lereng. Apabila menemukan indikasi tersebut, segera menjauhi area dan melapor ke nomor darurat setempat. Menjaga saluran air tetap tidak tersumbat dan menanam vegetasi penahan erosi di sekitar rumah merupakan langkah preventif yang murah namun efektif.

Exit mobile version