Batam, Batamdaily – Kepala Bidang Penegakan dan Penyidikan (P2) Kantor Bea dan Cukai Batam, Muhtadi, menanggapi isu yang menyebut dirinya sering bepergian ke luar negeri hingga puluhan kali. Ia dengan tegas menyatakan bahwa informasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Muhtadi membantah klaim yang menyebut dirinya melakukan perjalanan ke luar negeri sebanyak 52 kali. Menurutnya, angka tersebut tidak pernah diverifikasi dan cenderung menyesatkan. Pernyataan itu disampaikannya saat dikonfirmasi pada Senin siang, 5 Januari 2026.
“Saya pastikan kabar itu tidak benar. Soal jumlah pastinya pun saya tidak mengingat secara detail, karena perlu dicek kembali melalui data perjalanan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap perjalanan ke luar negeri yang dilakukan selama menjabat selalu berkaitan langsung dengan tugas kedinasan dan disertai dokumen resmi berupa surat perintah. Sebagai pejabat di bidang penegakan hukum kepabeanan, Muhtadi kerap terlibat dalam kerja sama lintas negara, khususnya dengan aparat penegak hukum di kawasan perbatasan.
“Batam berada di wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Dalam menjalankan fungsi P2, kami sering melakukan operasi bersama dan koordinasi dengan Coast Guard serta institusi luar negeri lainnya,” jelasnya.
Muhtadi juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas tersebut dilaporkan secara berjenjang kepada pimpinan dan tidak dilakukan secara pribadi.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa ada beberapa perjalanan yang bersinggungan dengan kepentingan keluarga. Ia menyebut salah satu anaknya berdomisili di Singapura. Selain itu, dalam situasi tertentu, ia memilih jalur perjalanan melalui Singapura saat kembali ke Batam demi efisiensi biaya, terutama ketika tiket penerbangan langsung sudah terbatas dan berharga tinggi.
“Kadang setelah penugasan di luar daerah, opsi tiket yang tersisa hanya kelas bisnis. Untuk menekan biaya, saya memilih rute alternatif melalui Singapura,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Muhtadi kembali menegaskan bahwa isu yang beredar di masyarakat tidak menggambarkan fakta yang sebenarnya.
“Saya tegaskan kembali, informasi tersebut tidak akurat dan perlu diluruskan,” tutupnya.
Isu ini sebelumnya ramai diperbincangkan di ruang publik dan media sosial, sehingga memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat.





