InternasionalBeritaPolitik

Trump Borong Obligasi Senilai Rp 1,69 Triliun, Portofolio Investasi Jadi Sorotan

193
×

Trump Borong Obligasi Senilai Rp 1,69 Triliun, Portofolio Investasi Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Dalam pengajuan keuangan terungkap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membeli obligasi pemerintah daerah dan korporasi.(Sumber Foto : Liputan6)
Dalam pengajuan keuangan terungkap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membeli obligasi pemerintah daerah dan korporasi.(Sumber Foto : Liputan6)

BatamDaily – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menambah kepemilikan obligasi senilai sekitar USD 100 juta atau setara Rp 1,69 triliun, berdasarkan nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.910 per dolar AS. Pembelian tersebut dilakukan dalam rentang waktu pertengahan November hingga akhir Desember 2025.

Dalam laporan pengungkapan keuangan yang dirilis akhir pekan ini, Trump tercatat membeli berbagai jenis obligasi, mulai dari obligasi pemerintah daerah hingga surat utang korporasi. Di antaranya termasuk obligasi milik perusahaan hiburan besar seperti Netflix dan Warner Bros Discovery, dengan nilai mencapai USD 2 juta atau sekitar Rp 33,8 miliar, tak lama setelah kedua perusahaan tersebut mengumumkan rencana merger.

Mengutip laporan Yahoo Finance, mayoritas obligasi yang dibeli Trump berasal dari pemerintah kota, distrik pendidikan, rumah sakit, hingga perusahaan utilitas. Namun demikian, ia juga memiliki eksposur pada obligasi sejumlah korporasi besar seperti Boeing, Occidental Petroleum, dan General Motors.

Langkah investasi ini menambah panjang daftar aset Trump selama menjabat sebagai presiden. Portofolio investasinya dinilai terus berkembang, terutama pada sektor-sektor yang berpotensi terdampak langsung oleh kebijakan pemerintah, sehingga memunculkan diskusi publik terkait potensi konflik kepentingan.

Sebagai contoh, pada Desember lalu Trump menyatakan dirinya akan terlibat dalam pengambilan keputusan regulator terkait rencana akuisisi Warner Bros Discovery senilai USD 83 miliar oleh Netflix. Proses tersebut membutuhkan persetujuan resmi otoritas, terutama karena adanya tawaran tandingan dari pihak lain.

Menanggapi isu tersebut, seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa seluruh aset saham dan obligasi Trump dikelola oleh lembaga keuangan independen. Baik Trump maupun keluarganya disebut tidak memiliki kewenangan untuk mengarahkan atau memengaruhi strategi investasi portofolio tersebut.

Trump sendiri dikenal rutin berinvestasi pada obligasi sebagai bagian dari pengelolaan kekayaannya. Sebelumnya, ia juga telah mengungkap pembelian obligasi senilai sekitar USD 82 juta pada periode Agustus hingga Oktober 2025.

Wall Street Melemah, Pasar Cermati Sikap Trump soal The Fed

Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026. Penurunan terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap pernyataan terbaru Presiden Trump mengenai arah kebijakan moneter dan isu geopolitik global.

Indeks S&P 500 terkoreksi tipis 0,06% ke level 6.940,01. Nasdaq Composite juga turun 0,06% dan berakhir di posisi 23.515,39, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 83,11 poin atau 0,17% ke angka 49.359,33.

Dalam perhitungan mingguan, S&P 500 turun 0,4%, Dow Jones melemah 0,3%, sementara Nasdaq mencatat penurunan terdalam sebesar 0,7%.

Tekanan pasar semakin terasa setelah Trump menyampaikan pernyataan di Gedung Putih terkait kursi Ketua Federal Reserve. Ia mengindikasikan lebih memilih Direktur Dewan Ekonomi Nasional, Kevin Hassett, tetap berada di jabatannya saat ini, sehingga peluangnya untuk memimpin bank sentral AS menjadi tidak pasti.

Pernyataan tersebut menggeser ekspektasi pasar yang sebelumnya menilai Hassett sebagai kandidat paling ramah pasar untuk menggantikan Jerome Powell, yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei mendatang. Kini, nama mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh mulai menguat dalam bursa prediksi.

Pelaku pasar menilai pergantian kepemimpinan The Fed berpotensi membawa kepentingan politik yang lebih besar ke dalam kebijakan moneter. Hal ini memicu kekhawatiran akan tergerusnya independensi bank sentral AS.

Saham Bank Tertekan, Investor Waspadai Risiko Global

Di tengah tekanan pasar, sektor teknologi sempat menahan pelemahan setelah saham-saham chip menguat. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memimpin kenaikan usai merilis kinerja kuartal keempat yang solid. Sentimen positif juga datang dari kesepakatan perdagangan antara AS dan Taiwan, yang mencakup rencana investasi sektor teknologi senilai USD 250 miliar.

Sebaliknya, saham perbankan justru melemah sepanjang pekan. Meski membukukan kinerja keuangan yang kuat, kekhawatiran pasar terhadap wacana pembatasan suku bunga kartu kredit oleh Trump menekan saham-saham bank besar. JPMorgan Chase dan Bank of America tercatat turun sekitar 5% dalam sepekan.

Investor juga dihadapkan pada meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari isu independensi The Fed hingga ketegangan geopolitik di kawasan Iran dan Greenland. Ketegangan tersebut kembali memanas setelah Trump membuka kemungkinan penerapan tarif baru terhadap negara-negara yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan AS.